Selasa, 22 Maret 2016

Aku Cinta Indonesia (Perspektif Mahasiswa) ~Muhamad Bai’ul Hak~



Aku Cinta Indonesia

(Perspektif Mahasiswa)

Muhamad Bai’ul Hak, SE
Awardee LPDP Program Magister Luar Negeri


Hari ini begitu banyak masyarakat yang tidak puas dengan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Masyarakat masih menganggap bahwa pemerintah belum mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Ketidakpuasan masyarakat berlatarbelakang dari banyaknya kebijakan pemerintah yang mencekik rakyat miskin, diantaranya kenaikan tarif dasar listrik, harga bbm yang turun naik, harga bahan-bahan pokok yang terus mengalami kenaikan dan profil pemerintah yang hanya pencitraan.

Ketidakpuasan tersebut dikhawatirkan akan semakin memperlemah semangat nasionalisme para pemuda Indonesia. Pengaruh media yang selalu menonjolkan permasalahan Indonesia dibandingkan prestasi dan potensi Indonesia menambah samangat nasionalisme pemuda semakin terdegradasi. Tingkat nasionalisme warga Indonesia sedang mengalami degradasi. Upacara Apel bendera setiap hari senin, penggunaan pakaian seragam sekolah yang mencerminkan kebanggaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan lirik-lirik lagu kebangsaan Indonesia belum cukup efektif untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme remaja Indonesia. 

Penelitian yang dilakukan Sulastri (2014) tentang Nasionalisme Mahasiswa Indonesia. Ada dua pertanyaan pembuka dalam penelitian tersebut, yaitu apa yang menjadi kelebihan dan Keburukan Indonesia dibandingkan Negara lain. Sebanyak 87 persen responden menjawab kelebihan Indonesia hanya pada pariwisata dan kebudayaan. Dan sebanyak 82 persen menerangkan begitu banyak keburukan Indonesia seperti  korupsi, kemiskinan, kemacetan, narkoba, prostitusi, pengangguran, dan tawuran.  Hal ini menjelaskan bahwa masih banyak warga Indonesia, termasuk kaum intelektual (Mahasiswa) yang belum memahami dan mengetahui prestasi dan potensi Indonesia.

Tidak sedikit mahasiswa yang tidak peduli dengan semangat nasionalisme, karena bagi mereka hidup sejahtera dengan penghasilan tinggi sudah lebih dari cukup untuk tidak menyusahkan bangsa ini. Para mahasiswa memiliki sikap apatisme yang cukup tinggi ketika berbicara tentang peran pemuda dan mahasiswa dalam membangun bangsa. Hanya sedikit saja dari kalangan tersebut yang memiliki jiwa nasionalis. Meskipun tidak dinapikan, ada sebagian kecil pemuda dan mahasiswa mengaku mencintai bangsa ini. Akan tetapi rasa cinta tersebut masih diwarnai dengan kebingungan atau mungkin sebuah kesalah-pahaman dalam mewujudkan semangat nasionalisme. 

Kesalah-pahaman tersebut tercermin dari aktivitas mereka terhadap perjalanan bangsa paska reformasi. Hari ini mahasiswa terjebak dalam pola kontribusi sebelum reformasi. Sikap kritis dan independen mahasiswa dalam berkontribusi kepada bangsa selalu dikaitkan dengan sikap mahasiswa di era pra reformasi. Mereka selalu menyuarakan kesakitan yang dirasakan oleh rakyat kecil hanya melalui aksi demonstrasi. 

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, bahkan harus tetap dilakukan ketika tirani kekuasaan begitu kokoh membuat kebijakan penuh kepentingan tertentu. Akan tetapi mahasiswa sering kali lupa dengan status yang melekat pada dirinya, yaitu seorang kaum intelektual yang menjadi cerminan masa depan bangsa. Identitas itu seakan tertutup rapat oleh sikap kritis terhadap setiap kebijakan publik. Mereka cenderung mengkritisi orang lain dan lupa untuk membangun kapasitas pribadi. Mereka seakan lupa bahwa yang dibutuhkan bangsa ini adalah mahasiswa yang cerdas dan berilmu, memiliki jiwa kepemimpinan dan mandiri secara financial secepat mungkin. Tuntutan mahasiswa abad 21 adalah mereka yang  memiliki wawasan global dengan pemahaman komprehensif tetapi tetap memiliki satu spesialisasi. Bangsa Indonesia membutuhkan kontribusi nyata Mahasiswa Indonesia. 

Siapa Itu Mahasiswa?
Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.
Peran dan fungsi mahasiswa antara lain (Sarwono, 1978):
  • Sebagai Iron Stock - mahasiswa itu harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang memimpin di pemerintahan nantinya, yang berarti mahasiswa akan menjadi generasi penerus untuk memimpin bangsa ini nantinya.
  • Agent Of Change - dituntut untuk menjadi agen perubahan. Disini maksudnya, jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu ternyata salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan yang sesungguhnya.
  • Social Control - harus mampu mengontrol sosial yang ada di lingkungan sekitar (lingkungan masyarakat). Jadi... selain pintar di bidang akademis, mahasiswa harus pintar juga dalam bersosialisasi dengan lingkungan.
  • Moral Force - diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan sekitarnya terjadi hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah serta meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan.


Peran Mahasiswa dalam Pencapaian Nasional
           Pencapaian tujuan nasional bangsa Indonesia yang dituangkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan tugas dan kewajiban seluruh warga negara Republik Indonesia. Tanggung jawab dan  keikutsertaan warga negara dalam pencapaian tujuan nasional tersebut merupakan perwujudan nasionalisme dalam bentuk kesadaran berbangsa dan bernegara, kecintaan terhadap tanah air, keyakinan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi, falsafah dan dasar negara, kerelaan berkorban bagi bangsa dan negara, serta kemampuan awal bela negara.
Berdasarkan cita-cita luhur bangsa Indonesia, maka untuk mengisi dan meneruskan kemerdekaan saat ini, sangat diperlukan jiwa-jiwa nasionalisme yang tinggi dari tiap-tiap warga negara. Diperlukan usaha yang keras dan serius, dan untuk mewujudkannya tidaklah harus selalu tampak di mata orang lain, akan tetapi bisa dimulai dari hal-hal yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang kompleks.

Cinta Tanah Air, Indonesia
          Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang sejak awal anti kolonialisme dan anti imperialisme karena kolonialisme dan imperialisme inilah yang menghilangkan harga diri manusia (the human dignity). Maka dari itu perlu penanaman nilai nasionalisme di era global sekarang ini, salah satu lembaga formal yang ikut bertanggung jawab adalah satuan pendidikan, dan yang paling dominan adalah Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi merupakan wadah yang menpertemukan seseorang dengan karakter dan rasionalitas. Kemampuan berpikir yang cukup matang dan diiringi pengetahuan yang semakin meningkat menjadikan karakter seseorang secara permanen terbentuk ketika menjadi Mahasiswa. Maka dari itu diperlukan pola pemahaman yang komprehensif terkait tugas seorang mahasiswa dalam berkontribusi untuk bangsa. Tujuan seorang mahasiswa harus sejalan dengan cita-cita luhur bangsa ini. Cita-cita mahasiswa  dalam membangun nasionalisme harus dimulai dari memperbaiki diri sendiri.
Ada tiga poin penting yang harus menjadi fokus seorang mahasiswa sebelum merawat bangsa ini. Antara lain:

  1. Secara Akademik,  Mahasiswa harus proesional dan berwawasan global.
  2. Secara Finansial, Mahasiswa harus mandiri secara finansial dengan mengembangkan potensi insani bisnis dan menjadi penggerak dalam membangun ekonomi masyarakat (Moko, 2008).
  3. Secara Organisasi, Mahasiswa dituntut aktif mengasah jiwa kepemimpinan (leadership) dan jejaring (networking) (Bagis, 2014).



Gambar 1. Fokus Mahasiswa dalam Membangun Semangat Nasionalisme

Manajemen yang dijalankan Mahasiswa memiliki peranan penting dalam mencapai ketiga fokus tujuan tersebut. Kemampuan dasar manajemen, yaitu merencanakan (Planning), mengorganisasi (Organizing), aktualiasasi (Actuating), dan mengendalikan (Controlling).
Prinsip yang harus dibangun dalam mengimplementasikan manajemen mahasiswa, adalah:
  1. Pribadi. Perbaikan kualitas pribadi merupakan cara yang paling sederhana dalam mencintai bangsa ini. Menjadikan diri sebagai pribadi sebagai insan yang pantas menjadi pemimpin masa depan bangsa Indonesia.
  2. Membangun Keluarga. Keluarga merupakan unit yang paling efektif dalam membentuk karakter tunas nasionalis baru. Melahirkan anak-anak yang berjiwa nasionalis sejak dini menjadi sangat penting untuk keberlanjutan pendidikan orang tua kepada anak.
  3. Lingkungan. Lingkungan sekitar memberikan warna yang cukup signifikan dalam mempengaruhi iklim nasionalis anak-anak dan remaja. Sebagai seorang mahasiswa harus mampu menjadi pewarna yang aktif dalam menumbuhkan iklim nasionalisme yang massif.
  4. Bangsa. Tugas seorang mahasiswa sebagai bagian dari sebuah bangsa adalah menjadi teladan yang baik bagi keluarga, lingkungan dan berkontribusi dalam membangun bangsa dalam skala yang lebih luas.
Tugas mahasiswa yang sesungguhnya akan teruji ketika sudah lulus dari perguruan tinggi. Masyarakat menanti kontribusi nyata sebagai kaum yang terlanjur intelekual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan.Maka dari itu, mahasiswa perlu sejak di bangku kuliah untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baik. Menyiapkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, mandiri secara financial melalui sosio-entrepreneur agar mampu berkontribusi optimal untuk pembangunan bangsa, serta mengasah jiwa kepemimpinan (leadership). Karena setiap mahasiswa adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri.

Aku Cinta Tanah Air
Seorang mahasiswa tidak lagi hanya bangga menjadi Indonesia dari teriakan semata.
Aku Cinta Indonesia
Seorang mahasiswa akan mampu memposisikan diri sebagai pemimpin yang mapan, matang dan berwawasan global.




Daftar Pustaka
Astamoen, Moko P. 2008. Entrepreneurship dalam perspektif Kondisi Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Bagis, AA. 2014. Perwujudan Potensi Insani untuk membangun Modal Maya (Virtual Capital). Publikasi Work Paper Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.
Sarlito Wirawan Sarwono. 1978. Perbedaan antara Pemimpin dan Aktivis dalam
Gerakan Mahasiswa, Suatu Studi Psikologi Sosial (Disertasi). Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Sulastri. 2014. Nasionalisme Masyarakat Indonesia: Perspektif Cinta Produk
Dalam Negeri. Tesis yang tidak dipublikasikan.

0 komentar:

Posting Komentar