Senin, 21 Maret 2016

Balai Tani : Alternatif Jaminan Sosial untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani ~Muhammad Zainul Asror~


Balai Tani : Alternatif Jaminan Sosial untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani 
 
Muhammad Zainul Asror ~Wakil Awardee LPDP NTB~ Mahasiswa S-2 Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM
Kemiskinan menjadi permasalahan klasik di Indonesia yang sampai sekarang belum ada ujung pangkalnya. Dari masa ke masa dan pergantian pemerintahan masing-masing telah menyumbangkan solusi untuk mengentaskan kemiskinan. Namun belum satupun jua tawaran solusi-solusi itu yang bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Sangat ironis bahwa Indonesia sebuah Negara dengan sumberdaya alam yang sangat kaya dan melimpah masyarakatnya masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Kekayaan alam Indonesia yang terbentang dari Merauke di ujung timur Papua sampai Sabang di ujung barat Pulau Sumatera. Mulai dari potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, mineral dari perut bumi, hasil hutan sampai potensi sektor agraris. Dari data Portal Nasional RI disebutkan bahwa potensi sektor kelautan diperkirakan menghasilkan sekitar 6.4 juta ton pertahun, baru dimanfaatkan sekitar 70%. Selain itu sebagai Negara agraris, dengan luas lahan pertanian yang dimiliki indonesia sekitar 82.71% pertanian juga menjadi sumber terpenting sebagai mata pencaharian masyarakat. Keberlimpahan sumberdaya alam itu menjadi tumpuan harapan sebagai bekal untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat. Namun dari seluruh kekayaan alam indonesia, belum dapat dimanfaatkan secara optimal

Sektor agraris sebagai salah satu pencaharian utama masyarakat Indonesia yang seyogyanya bisa menjadi penunjang penghasilan, sepertinya dianggap tidak lagi dapat memberikan jaminan hidup sejahtera bagi masyarakat petani. Lambat laun sektor pertanian mulai ditinggalkan, masyarakat lebih cenderung mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dalam waktu yang relatif singkat. Para pemuda desa pun tampak enggan untuk mau bekerja di sawah. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan diluar sektor pertanian, bahkan banyak juga diantara mereka memilih bekerja keluar negeri sebagai buruh migran. Walaupun hasil yang didapatkan belum tentu sebanding dengan mengelola lahan pertanian. Hamparan lahan-lahan pertanian menjadi terancam kehilangan penggarap.

Melihat potensi pertanian yang begitu besar sebenarnya akan memunculkan optimisme kita bahwa masyarakat Indonesia bisa sejahtera dengan mengadalkan sektor pertanian. Namun, pengelolaan yang belum berjalan secara baik menjadi alasan mengapa hasil yang didapatkan dari sektor pertanian belum bisa memberikan jaminan kesejahteraan. Berbagai program telah dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, hanya saja program-program tersebut belum berjalan secara maksimal. Belajar dari keadaan tersebut maka, diperlukan sebuah formulasi kebijakan pada sektor pertanian yang disusun secara matang dengan berbagai pertimbangan untuk mewujudkan pertanian yang kuat dan berdaya. Sehingga pertanian bisa menjadi satu jalan penting untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Masalah Pertanian Kita
Mencoba mengingat kembali kejayaan pertanian Indonesia, tentu masih segar dalam ingatan kita pada masa orde baru sekitar tahun 80-an. Dengan usaha maksimal pemerintah pada waktu itu, Indonesia mampu mencapai swasembada beras dan mendapat penghargaan dari FAO. Capaian jumlah produksi beras nasional mencapai 25,8 juta ton. Dengan capaian produksi beras yang melimpah tersebut tentu saja kebutuhan untuk konsumsi beras nasional dapat tercukupi bahkan Indonesia bisa mendapat surplus dari meningkatnya neraca ekspor beras. 

Data sensus pertanian pada tahun 2013 menunjukan bahwa ada penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian dibandingkan pada tahun 2003. Pada sensus tahun 2003 terdapat 31.232.184 rumah tangga usaha pertanian sedangkan pada tahun 2013 mengalami penurunan jumlah menjadi 26.135.469 rumah tangga . Ada penurunan jumlah yang cukup signifikan selama kurun waktu 10 tahun terakhir yaitu sekitar 5.096.715 rumah tangga atau sekitar 16,32%. Artinya bahwa sektor pertanian yang menjadi pencaharian utama mulai ditinggalkan, para petani berpindah profesi ke sektor usaha lain yang dianggap lebih menjanjikan. 

Sumber : diolah dari data hasil sensus pertanian 2013

Keterangan : - Skala yang digunakan adalah dalam satuan juta

Ada beberapa hal yang menjadi permasalahan utama dalam mengembangkan usaha sektor pertanian. Masalah-masalah tersebut secara langsung terkait dengan proses produksi pertanian sehingga itu yang menjadi rintangan petani dalam mengelola lahan pertanian. Adapun beberapa permasalahan tersebut yaitu: 

Pertama, kekurangan modal. Ketika masa bercocok tanam tiba petani membutuhkan modal yang tidak sedikit. Sebagian besar petani kita adalah petani-petani kecil dan mereka tidak memiliki modal awal untuk mulai bercocok tanam. Untuk mendapatkan modal mereka harus mencari pinjaman kesana kemari, sehingga terdesak kondisi seringkali mereka terjebak untuk meminjam pada rentenir. Pada akhirnya berapapun hasil panen yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang bahkan bisa tidak cukup sama sekali. Namun demikian mereka harus tetap melakukan kegiatan produksi karena itu hanya satu-satunya cara mereka bertahan hidup.

Kedua, Akses mendapatkan pupuk yang sulit. Ketika petani sudah berhasil memulai kegiatan bercocok tanam muncul masalah kedua yaitu kesulitan untuk mendapatkan akses pupuk. Kelangkaan pupuk seringkali terjadi sehingga menyulitkan petani, kalaupun ada harganya sangat mahal. Lagi-lagi petani harus mengeluarkan biaya lebih atau untuk menyiasati hal tersebut mereka harus mengurangi jumlah takaran pupuk yang digunakan, tentu dengan resiko tanaman tidak tumbuh subur dan produksi menurun karena kekurangan asupan pupuk.

Ketiga, Kurangnya tenaga dan alat produksi. Pertanaian yang terlihat tidak menjanjikan membuat orang berfikir untuk mencari pekerjaan lain dengan pendapatan yang lebih besar. Itulah yang dilakukan oleh sebagian besar buruh tani sehingga petani pengelola lahan pertanian kesulitan mencari tenaga penggarap. Karena terbatasnya tenaga penggarap, tentu itu juga berimbas terhadap naiknya upah sehingga akan membebani biaya produksi. Begitu juga keterbatasan alat produksi memberikan dampak yang cukup besar bagi terhambatnya proses produksi pertanian.

Keempat, Ancaman gagal panen. Pengelolaan pertanian yang tidak maksimal karena keterbatasan berbagai akses mulai dari modal mulai cocok tanam, akses pupuk yang sulit, kekurangan tenaga penggarap menjadikan peluang gagal panen menjadi semakin besar. Resiko gagal panen selalu menjadi momok bagi petani karena mereka tidak siap untuk menghadapi kemungkinan buruk tersebut terlebih dari aspek permodalan. Dengan tingginya resiko gagal panen yang mungkin terjadi dan ketidak siapan petani, maka ketika terjadi bencana alam maupun puso itu berdampak secara langsung memupuskan harapan petani.
Kelima, Masa pasca panen. Satu hal yang juga penting dan menjadi masalah bagi sektor pertanian adalah pengelolan pasca panen. Terkadang hasil pertanian dapat melimpah ruah, namun terbatasnya akses terhadap pasar menjadikan petani susah untuk menjual hasil produksinya. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengolahan produk pertanian pun membawa dampak buruk. Pada akhirnya penen yang melimpah menyebabkan terjadinya penurunan harga yang drastis sehingga petani tetap merugi.

Harapan masyarakat adalah sektor pertanian bisa menjadi tumpuan hidup mereka, namun ternyata sektor pertanian juga tidak mampu memberikan jaminan. Resiko yang begitu besar harus siap dihadapi petani sehingga mereka tidak bisa berharap banyak untuk bisa mendapat hasil yang melimpah. Sekalipun mereka bisa mendapat hasil panen yang melimpah, petani juga tidak bisa berharap lebih karena mendapat serbuan oleh berbagai jenis produk impor yang menjadikan penurunan harga. Regulasi dari pemerintah yang diharapkan mampu memberikan keberpihakan terhadap petani -ketika para petani berusaha tetap bertahan dengan kerja sektor pertanian- justru ikut menyudutkan mereka, kran impor yang terbuka lebar tidak diiringi dengan pemberian protect terhadap petani sehingga posisi petani selalu tidak berdaya.

Menggas Balai Tani
Membaca Nawa Cita sebagai visi dan misi pemerintahan terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pada poit ke-7 berbunyi “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik”. Kemudian secara lebih rinci disebutkan beberapa langkah yang akan dilakukan pada sektor agraris adalah mewujudkan kedaulatan pangan dan mendirikan bank petani dan gudang pengelolaan pasca panen. Sebagai sebuah bentuk keberpihakan pemerintah kepada nasib masyarakat petani maka visi dan misi tersebut cukup bagus untuk dilaksanakan namun, pelaksanaannya terutama pada level tekhnis belum ada sama sekali yang dilakukan.

Rencana pendirian  bank petani sampai saat ini belum terlihat upaya dari pemerintah untuk memulainya. Padahal hal itu sangat penting untuk memberikan kemudahan dalam akses permodalan bagi petani sekaligus memberikan solusi agar petani bisa terlepas dari jerat rentenir. Kebijakan distribusi pupuk juga belum bisa menjangkau petani, kelangkaan pupuk dan harga perolehannya yang jauh melampaui standar harga menjadi beban berat bagi petani. Kekurangan tenaga penggarap di sektor pertanian belum ada solusi untuk mengatasi, bantuan alat-alat produksi pertanian dari pemerintah terkesan tebang pilih, sehingga banyak juga petani yang tidak mendapatkan bantuan tersebut. Peremajaan angkatan kerja pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian yang sempat diwacanakan pemerintah sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. Asuransi pertanian sebagai perlindungan petani terhadap resiko gagal panen beberapa kali melalui proses pengembangan tapi juga belum bisa diterapkan.

Menjadi sebuah keharusan pemerintah untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah diatas. Sebab jika kondisi masyarakat petani tetap dibiarkan dengan keadaan seperti itu maka dari tahun ke tahun jumlah rumah tangga usaha pertanian akan semakin berkurang, karena para petani akan mencari pekerjaan pada sektor-sektor lain yang lebih bisa menjamin kesejahteraan mereka.

Melihat sejauh ini, belum ada satupun program pemerintah yang bisa menyelesaikan secara tuntas permasalahan petani menjadi pentingnya permasalahan diatas untuk dirumuskan kebijakan baru yang lebih berpihak kepada petani. Salah satu program yang bisa dilaksanakan dan ditelurkan sebagai sebuah kebijakan sosial untuk petani adalah program Balai Tani.

Balai tani adalah sebuah wadah berbentuk koperasi yang bisa digunakan secara multifungsi untuk berbagai program peningkatan kesejahteraan petani. Misalnya, masalah kekurangan modal yang dialami oleh petani pada awal musim tanam melalui balai tani ini bisa di berikan pinjaman modal dengan bunga yang rendah (atau tanpa bunga) sehingga petani tidak terbebani. Proses pinjamannya dapat dilakukan seperti perbankan tapi secara bertahap ketika lembaga balai tani tersebut telah mapan maka sistem pengelolaannya dilakukan dengan pengelolaan koperasi.

Selain itu juga balai tani ini bisa menjadi fasilitator penyediaan pupuk sehingga dapat langsung menjangkau petani dan penyebaran distribusi pupuk menjadi merata sekaligus mencegah munculnya para tengkulak penimbun pupuk dengan tujuan mendapat keuntungan secara curang. Pengelolaan hasil produksi pasca panen juga dapat dilakukan melalui balai tani, karena lembaga ini berbentuk sejenis koperasi maka balai tani ini yang akan mengumpulkan hasil produksi sehingga nilai jualnya bisa dijaga tetap stabil dan tidak merugikan petani.

Asuransi sebagai bagian dari perlindungan petani terhadap ancaman gagal panen bisa dijalankan melalui balai tani. Berbagai hal yang terkait dengan pengaturan tentang asuransi pertanian bisa dikoordinasikan, termasuk sistem operasional dan tekhnis pembayaran premi asuransi dan bantuan subsidi dari pemerintah. Satu hal yang juga penting adalah balai tani ini akan menjadi pusat informasi pertanian. Dengan begitu pengembangan sumberdaya manusia bisa ditingkatkan sehingga kualitas hidup petani secara bertahap bisa mencapai sejahtera.

7 komentar:

  1. Di tunggu karyanya Pak Arif Bulan juga, kirim ke email lpdpntb@gmail.com
    Terimakasih banyak

    BalasHapus
  2. Ror.... comentku panjang. Ta krim kemana? Hahahaa

    BalasHapus
  3. Ror.... comentku panjang. Ta krim kemana? Hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mantab,,,, di fb aja biar langsung diskusi

      Hapus
  4. Panjangnya kk Asror, hahaha ta ngiritang baca juluk, bareh malik haha

    BalasHapus
  5. Mantap Mas Asrol.,

    Nah Itulah kenyataan yang di alami dari tahun ke tahun. Selain beberapa masalah yang telah d paparkan di atas juga Pemahaman masyarakt.terhadap hal ini masih terbatas selain itu, tidak di dukung oleh teknologi yang memadai sehingga walaupun dari dulu hingga sekarang hanyalah seperti demikian.

    BalasHapus