Rabu, 16 Maret 2016

Menulis untuk Berpikir Kreatif -Abdul Rahim-


 Menulis untuk Berpikir Kreatif

Abdul Rahim, Awardee LPDP Afirmasi, Mahasiswa Magister Kajian Budaya dan Media UGM

Berbicara tentang publikasi ilmiah kita yang masih rendah jika dibandingkan dengan Negara-Negara tetangga ASEAN  (Trintono Safaria, Kompasiana : Mengejar ketertinggalan Riset di Indonesia) tidak terlepas dari kompetensi menulis yang yang ada pada masyarakat kita. Sebagaimana halnya 4 kompetensi dalam pembelajaran bahasa yang ditekankan yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara, 4 kompetensi secara urut tersebut merupakan dasar yang saling berkaitan. Membaca merupakan modal awal untuk mengkonstruksi informasi/pengetahuan yang akan tersimpan dalam memori, sedangkan menulis merupakan bentuk transformasi ulang atau merekonstruksi informasi/pengetahuan atau ide tersebut secara eksplisit dalam bentuk tulisan. 

Begitu juga halnya dengan kompetensi Mendengarkan, seseorang yang kompetensi mendengarkannya baik, cenderung dalam hal berbicara juga akan baik karena mengetahui konsep berbicara dari orang yang didengarkan. Akan tetapi yang semestinya kita penuhi dari 3 kompetensi dasar inilah yang akan berdampak pula pada penguasaan kompetensi menulis. Dari hasil bacaan, wawasan berpikir dapat dikembangkan menjadi tulisan, dari hasil mendengarkan informasi penting bisa diolah menjadi tulisan yang bermanfaat untuk menginformasikan orang lain (jurnalistik), begitu juga dengan berbicara, seharusnya penuangan ide/pemikiran dalam bentuk verbal sama halnya dengan kita tuangkan dalam bentuk tulisan.

Kendala yang kita hadapi saat ini bukan hanya masalah kompetensi menulis yang masih rendah, terlebih juga minat untuk menulis. Bisa kita lihat dari kurikulum pembelajaran bahasa yang dimulai dari bangku SLTP walaupun tercantum Menulis sebagai standar kompetensi yang harus dikuasai, namun praktik untuk menulis itu pun jarang sekali diadakan. Maka tak heran ketika mengerjakan tugas-tugas yang menuntut untuk berpikir/mengembangkan ide, peserta didik kita lebih cenderung mencari di Internet, bahkan yang lebih parahnya langsung copy-paste. Seperti halnya tulisan di kompas.com (22-02-2016) yang menuliskan tentang faktanya pelajar Indonesia keteter dalam "Academic Writing", ini menunjukkan bahwa kompetensi menulis juga perlu mendapatkan perhatian secara baik di kurikulum pendidikan kita. Sebab dengan pembiasaan menulis untuk mengembangkan ide berpikir yang dimulai sejak dini akan berprogres besar untuk intervensi selanjutnya ketika peserta didik melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Membaca sebgai sebuah Budaya Intelektualitas

Salah satu langkah tanggap untuk mewujudkan hal tersebut tak terlepas dengan budaya membaca yang mesti digalakkan jika tidak ingin tertinggal dalam hal intelektualitas SDM kita. Seperti yang dicatat Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) bahwa indeks minat baca. di Indonesia baru mencapi 0,001, yang artinya pada setiap 1000 orang hanya ada 1 orang yang punya minat membaca (Kompas : Membaca sebagai Jendela untuk Melihat Dunia). Banyak hal yang dilakukan untuk menggalakkan budaya membaca namun dampak besar yang ingin dicapai belum signifikan dan terkesan mengalami banyak kendala terutama dalam hal distribusi bahan bacaan. Contohnya perpustakaan keliling, dan itupun hanya menjangkau sekolah-sekolah dengan akses jalan yang mulus, sangat jarang kita temui mobil perpustakaan keliling berhasil menjangkau sekolah-sekolah swasta di pelosok yang akses jalannya belum baik.

Selain itu gerakan-gerakan atau komunitas baca lainnya yang ikut andil untuk membudayakan membaca, sekarang sedang menemukan geliatnya untuk berkembang secara massif dan semestinya mendapat perhatian dari pemerintah. Seperti di daerah penulis, Lombok, NTB, sebut saja Klub Baca Perempuan, gerakan untuk membudayakan minat baca dan semangat belajar anak-anak daerah terpencil di Kabupaten Lombok Utara yang digagas oleh Ibu Nursyida Syam yang peduli akan pendidikan anak-anak di daerah terpencil. Klub Baca Perempuan tersebut sempat mendapat sorotan dari Kick Andy yang bertajuk Kick Andy Roadshow Goes to Lombok beberapa tahun lalu.

Ada pula Gelora Education Center (GEC) yang digagas oleh Soni Ariawan (sekarang sedang menempuh studi master dengan beasiswa LPDP di Adelaide, Australia), berlokasi di Lombok Timur, di sebuah desa pedalaman lereng utara Gunung Rinjani. Gelora Education Center inipun memfokuskan untuk pembinaan pendidikan untuk anak-anak kurang mampu, pembinaan penguasaan bahasa Asing untuk remaja, serta pembinaan mental untuk berpikir maju dalam menghadapi tantangan global ke depannya. Begitu juga halnya dengan Rumah Belajar dan Taman Baca Kompak (Komunitas Pemuda Kreatif) yang penulis pernah gagas di kampung terpencil kami di Lombok Timur untuk membina semangat belajar generasi muda, serta membudayakan membaca sebagai pembelajaran kedua di samping pendidikan formal yang didapatkan di sekolah/Madrasah. Bahkan masih banyak lagi komunitas-komunitas lainnya yang mempunyai tujuan yang sama, semisal Studio Manajemen, Kelompok Cinta Baca (KCB) Mataram, Galang Anak Semesta (GAGAS), Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN), Jage Kestare Foundation dan lain-lainnya. Namun kendala karena berada di daerah terpencil inilah belum begitu banyak dikenal bahkan cenderung tidak ada yang tahu bahwa gerakan baik ini semestinya mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Terkait kendala sulitnya distribusi bahan bacaan ke daerah terpencil inilah yang menjadi tantangan bersama untuk pemecahannya. Seperti halnya beberapa waktu lalu Pusat Perbukuan dan Perpustakaan Nasional pernah menginformasikan melalui media online bahwa mereka menerima proposal permohonan buku untuk taman bacaan, atau perpustakaan-perpustakaan masyarakat agar meratanya peningkatan minat baca. Namun lagi-lagi di informasi yang direlease tersebut mereka hanya menyediakan buku, lalu untuk biaya distribusi/biaya kirim dibebankan ke masing-masing lembaga/komunitas baca yang mengajukan tersebut. Jelas saja dalam hal ini komunitas-komunitas tersebut akan berpikir dua kali ketika akan mengajukan permohonan buku. Solusi untuk distribusi tersebut bisa diambil langkah konkret peran serta pemerintah daerah yang akan mendanai pendistribusiannya ke kantor Dinas Pendidikan masing-masing Provinsi atau Kabupaten, nantinya pihak-pihak lembaga/komunitas yang mengajukan permohonan pengadaan buku tersebut yang akan mengambil ke kantor Dinas Pendidikan masing-masing.

Kurikulum Berkarya melalui Tulisan

Di samping membudayakan membaca, budaya menulis untuk mengembangkan ide merupakan salah satu point untuk meningkatkan daya saing SDM kita. Bisa kita lihat tugas-tugas akhir mahasiswa yang begitu tebal namun ternyata isinya lebih banyak teori dan basa-basi yang dicopy-paste dari tugas akhir sebelumnya, dan itu terus berlanjut ke generasi setelahnya. Sebab karya ilmiah sebagai tugas akhir mahasiswa hanya dijadikan syarat untuk kelulusan bukan dimaksudkan untuk benar-benar menggali ide kreatif mahasiswa dalam mengembangkan pemikiran atas ilmu pengetahuan yang sudah didapatkan. 

Jika saja perguruan tinggi kita ingin benar-benar produktif atas ide mahasiswa dalam karya ilmiah tugas akhirnya, maka tidak perlu menilai dari seberapa banyak teori yang dikutip, namun hasil dari penelitian ilmiah itulah yang menjadi fokus pengembangan ilmu pengetahuan yang bernilai sebagai bentuk sumbangsih atas intelektualitas mahasiswanya. Dengan begitu dosen pembimbing bukan hanya sekedar main coret atas kesalahan kutipan, lebih-lebih esensi dari karya ilmiah mahasiswa yang dibimbing.

Selain itu, membudayakan menulis dengan menuntut peserta didik untuk berkarya bisa dimulai sejak mereka di tingkat SLTP, pembiasaan menulis bisa dimulai dari hal paling sederhana seperti Majalah Dinding (Mading), atau penugasan-penugasan berkarya yang membutuhkan penjelasan melalui tulisan, baik dari hasil pengamatan ataupun penelitian tingkat lanjut atas sesuatu hal. Ketika sudah terbiasa dengan penuangan ide melalui tulisan sejak SLTP, maka level penilaian atas karya tulis mereka ketika di jenjang SLTA bisa dinaikkan, bukan hanya tentang bagaimana mereka mengkonstruksi ide dalam tulisannya, tetapi juga teori yang mereka jadikan acuan atas penelitian dalam karya tulis mereka. Memasuki jenjang perguruan tinggi, sudah saatnya juga dalam seleksi penerimaan Mahasiswa baru, kampus melakukan seleksi dalam bentuk tulisan yang dibuat calon mahasiswa, sebagai bentuk pengukuran tingkat kreatifitas mereka dalam mengembangkan ide pada hal apa yang akan dipelajari ketika memasuki kampus yang mereka tuju.

Dengan demikian tidak lagi terdengar statemen bahwa orang yang mempelajari bahasa lebih produktif dalam hal tulis-menulis, dan itu bukan lagi alibi bagi peserta didik yang mempelajari disiplin ilmu lainnya untuk tidak produktif berkarya. Karena ketika mindset mereka sudah tertanam bahwa menulis lebih bisa dilakukan oleh orang bahasa, maka itu semacam sugesti bagi mereka untuk menjadi legitimasi mencari aman atas diri mereka. "Tidak mengapa walaupun tidak punya karya, karena kami bukan orang bahasa yang tahu konsep menulis", pernyataan semacam inilah yang penulis sering dengar sebagai tameng beberapa kawan yang mengaku tidak bisa produktif menulis. Padahal rata-rata ide mereka ketika menggunakan bahasa verbal cukup baik jika dikembangkan juga dalam tulisan yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Solusi realistis untuk terwujudnya budaya membaca dan menulis ini lebih mengarah pada meratanya distribusi bahan bacaan untuk peserta didik ataupun masyarakat kita, sehingga kesenjngan antara sekolah di kota dan pedalaman bisa diminimalisir, setidaknya dengan bahan bacaan yang memadai bisa menjadi sumber ilmu juga bagi peserta didik kami yang di pedalaman. Lalu terkait kurikulum pendidikan kita dalam hal berkarya, kita tidak akan tahu sejauh mana kompetensi peserta didik kita selama kita tidak mencoba memberikan mereka sedikit tantangan untuk berkarya melalui tulisan, dan jika tidak dimulai dari sekarang, maka sama halnya kita terlalu membiarkan peserta didik dalam zona nyaman yang melenakan mereka terkungkung dalam kemalasan untuk berkarya.





0 komentar:

Posting Komentar