Senin, 21 Maret 2016

Awardee LPDP dan Masa Depan NTB ~Soni Ariawan~



Awardee LPDP dan Masa Depan NTB




Soni Ariawan
 (Master of Education University of Adelaide, Australia)

Pernahkah kita menyempatkan diri untuk mereka kembali bagaimana proses panjang perjuangan kita meraih beasiswa LPDP? Bukankah kita semua berangkat dari ruang ketidakmungkinan, mental sekedar mencoba-coba, aji mumpung, rasa merendahkan diri kalau kita berasal dari desa, takut saingan yang lain lebih hebat dan pesimisme lainnya? Tetapi, buktinya Anda sekarang sedang berada di bawah beasiswa LPDP. Bahagia? Pastinya. Siapa sih yang tidak merindukan kuliah S2 dan S3 gratis. Tetapi, adakah di dalam hati kita terbersit sebuah niat, lebih dalam lagi sebuah jiwa, untuk merasa harus berkontribusi dan mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa ini? Jika Anda sekarang ini merasa ada di bawah bayang-bayang seperti ini maka selamat, LPDP telah memilih orang yang tepat, Indonesia telah memilih putra-putri terbaiknya. Sebaliknya, jika tak sepintaspun lewat di pikiran Anda kemauan untuk berkontribusi, mengamalkan ilmu Anda untuk kebermanfaatan bagi orang lain, maka tanggalkan saja beasiswa ini. Maaf, you are not the right man that LPDP look for. You’ve just wasted Indonesian money.

Tahukan Anda bahwa setiap awardee itu sangat berarti bagi bangsa ini? Tak layak Anda menggalau dengan menganggap diri tidak punya apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa dan Anda tidak menjadi siapa-siapa. Ingat, Anda adalah orang-orang yang sudah terseleksi oleh negara ini. Dari ribuan mereka yang juga mengincar target yang sama dengan Anda. Tetapi lihat, Andalah pemenangnya. Ini bukan riak, bukan pula sombong, tetapi beginilah cara kita memantaskan diri bahwa kita ternyata orang hebat dan siap bersinergi dengan orang hebat lainnya untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang hebat, sejahtera dan bermartabat. Sekarang lah waktu yang tepat untuk membuktikan kehebatan itu.

Coba kita berhitung, berapa banyak uang yang negara ini sudah habiskan untuk membiayai kita. Mulai dari kegiatan sosialisasi, seleksi, PK, pembekalan Bahasa,  biaya transportasi, Settlement Allowance, Family Allowance, Book Allowance, Tuition Fee yang tidak akan mungkin kita mampu bayar sendiri dan banyak payment lainnya. Ini baru untuk satu orang, kali ribuan orang. Anda sudah bisa mengkalkulasi bahwa ini bukan uang kecil, jelas jumlahnya fantastis. Boleh saja Anda berargumentasi bilang wajar, ini kan uang rakyat. Iya, tidak salah. Masalahnya, kita seringkali tidak taat bayar pajak, melanggar lalu lintas, tidak pernah berkontribusi nyata untuk bangsa ini, tetapi kenapa Indonesia masih mau membiayai kita? Gratis lagi. Inilah konsep dasar yang jarang sekali kita renungkan sehingga rasa tanggung jawab terhadap amanah ini seringkali terabaikan. 

Sekali lagi, kenapa negara “mau”membiayai Anda padahal belum tentu Anda akan membalas jasa negara ini? Satu alasan kuatnya, karena Anda adalah masa depan. You are the future.  Kalau saja bangsa ini tidak optimis untuk maju, tidak percaya diri untuk melangkah ke depan menjadi negara makmur, maka tak mungkin dia berkorban harta untuk Anda. Maka sadarkah kita bahwa apa yang negara ini harapkan adalah sebuah target perjuangan kita. Pendidikan yang kita tempuh sekarang ini adalah alat dan jalan menuju target itu. Jangan sampai kita salah menggunakan ilmu yang didapat, critical thinking yang diperoleh, untuk melumpuhkan negara ini. Boleh saja kita mengkritisi, mencari weak spot, titik lemah, penyakit negara ini, tetapi jangan lantas ditinggalkan dan dibiarkan akut. Anda yang harus mengobatinya, paling tidak bersinergi dengan yang lain untuk menutupi titik yang lemah tadi.  

Masa Depan NTB
Pembicaraan kita alihkan lebih mengkrucut dengan menarik kesimpulan bahwa awardee LPDP NTB adalah lokomotif masa depan NTB. Saya seringkali bertanya-tanya tentang kenapa NTB tertinggal dibandingkan dengan provinsi yang lainnya. Tidak bisa dipungkiri, pertanyaan liar ini pasti pernah menghinggapi pikiran kita semua. Kemudian kita mencoba mereka-reka jawabannya. Saya tiba pada sebuah kesimpulan bahwa kita kekurangan orang pintar di NTB. Kalaupun ada itu tidak cukup. Karena banyak mereka setelah menjadi pintar, tidak tinggal di NTB. Tidak masalah seandainya dimanapun tinggal asalkan tetap berkontribusi untuk NTB. Tetapi buktinya, masih saja NTB seperti ini. Pintar saja tidak cukup jika kepintaranya itu tidak dimanfaatkan. Orang pintar di sini dalam artian literal ya, paling tidak limitasinya adalah mereka yang bergelar, bukan belian alias dukun. Anda bisa saja membantah kesimpulan saya, it is debatable. Karena memang banyak variable yang memengaruhi maju dan mundurnya sebuah daerah. Saya punya rasionaliasi tentang ini. 

Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting dalam membangun sebuah bangsa. Lihatlah bagaimana Jepang ketika diluluhkantahkan oleh bom atom Amerika di kota Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 sekaligus sebagai tanda berakhirnya perang dunia ke II.  Semua lini kehidupan Jepang pada saat itu lumpuh total. Sebanyak 146.000 orang tewas di Hirosima dan 80.000 orang korban di Nagasaki. Tetapi kenapa Jepang bisa membalikkan keadaan dalam kurung waktu 30 tahun? Bahkan berbalik menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kedua terbesar saat itu. Selain karena faktor pembangunan infrastruktur, faktor terpenting yang membuatnya sukses adalah pendidikan. Saya teringat cerita guru sejarah waktu SMA yang bilang bahwa begitu Jepang lumpuh total, Kaisar Jepang tidak bertanya berapa banyak kerugian harta, tetapi ia bertanya berapa banyak guru yang meninggal dunia. Inilah salah satu bentuk betapa Kaisar Jepang sangat sadar bahwa pendidikan mampu mengubah nasib sebuah bangsa. Tidak sampai di situ, dia mendatangkan literatur-literatur dari barat dan diterjemahkan ke Bahasa Jepang serta mengutus putra-putrinya untuk belajar ke negara barat.

Mereka yang menuntut ilmu ke luar negeri tersebut sangat semangat sekali kembali ke negaranya untuk menerapkan ilmu yang didapatkan. Mereka juga memiliki semangat inovasi yang tinggi dengan berasumsi bahwa semua teori yang didapatkan dari negara-negara barat itu hanya sebuah bahan baku dan belum siap untuk di pakai khususnya dalam konteks negara Jepang. Apa yang terjadi kemudian? Mereka melakukan modifikasi, inovasi dan kontekstualisasi terhadap teori dan ilmu yang didapatkan. Pada akhirnya bermunculan lah ilmuan-ilmuan Jepang yang sangat inovatif dan produktif. 

Bagaimana dengan kita? Kita? Iya,,,kita. Indonesia. Nusa Tenggara Barat! Kita sekarang sedang berada pada salah satu fase yang Jepang pernah alami. Ketika generasinya diutus untuk  studi ke luar negeri. Bedanya, kita tidak perlu dihujani oleh bom atom terlebih dahulu baru bergerak. Dalam konteks NTB, ketika putra-putri daerah diutus untuk studi ke luar daerah dan ke luar negeri. Sudah pasti, 2 tahun ke depan akan lahir orang-orang pintar dari kalangan master/S2. Dan 4 tahun ke depan, akan lahir orang-orang pintar dari kalangan doctoral/s3. Bisa jadi 10 tahun ke depan akan lahir pula guru besar-guru besar dari kalangan mereka tadi. Sekarang awardee LPDP NTB yang studi di dalam negeri dan di luar negeri dengan berbagai macam bidang ilmu, berjumlah sekitar 150 orang. Ini adalah modal sumber daya manusia dalam waktu 2 tahun dan akan terus meningkat dua kali lipat untuk dua tahun berikutnya dan seterusnya. Maka akan lahir 200 orang pintar yang akan berpikir tentang bagaimana membangun Nusa Tenggara Barat. Ini baru sebuah investasi SDM dalam jangka waktu dua tahun. Empat tahun ke depan kita akan mendapatkan 400 orang pintar, enam tahun ke depan kita akan mendapatkan 600 orang pintar. Maka sepuluh tahun ke depan ada 1.000 orang pintar di NTB. Apa yang tidak bisa kita lakukan dengan 1.000 orang pintar? Ini baru dari satu provider beasiswa (LPDP), belum lagi lulusan AAS, Dikti dsb. Saya membayangkan, pada saat itu NTB sebagai provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Indonesia dan secara ekonomi, masyarakat kita sejahtera. 

Sekarang jelas sudah bagaimana kita semua sedang dijadikan “objek” investasi transaksional bangsa ini untuk meraih masa depan yang cerah. Kita sedang terikat kontrak dengan Indonesia untuk sebuah tujuan yang mutualisme. Secara individu, kita mendapatkan materi dari investasi negara ini, mendapatkan ilmu dan “kesejahteraan” individual, tetapi jangan hanya untungnya di kita saja. Kita harus memberikan benefit untuk bangsa ini dengan menjadi manusia educated yang akan berkontribusi untuk memajukan Indonesia. Minimal mulai dari sekarang kita sadari bahwa ada kewajiban moral, sosial dan transaksional yang sudah kita sepakati dengan Indonesia. Bahwa kita harus menunjukkan prestasi, bukan mengecewakan bangsa ini dengan menjadi mahasiswa abadi di kampus masing-masing karena jelas akan menguras dompet bangsa ini, mulailah untuk beraksi dan berinovasi minimal dari lingkungan masyarakat desa masing-masing, tidak perlu menunggu gelar untuk berbuat baik. Dan yang paling penting adalah mulailah untuk bersinergi dengan orang pintar lainnya. Karena pekerjaan besar akan terasa ringan jika dikerjakan secara bersama-sama. 

Permasalahan di NTB ini terlalu rumit untuk dirajut oleh hanya segelintir pejabat. Butuh semangat anak muda educated yang dengan kreativitas, mentalitas dan knowledge mampu memecahkan semua problematika itu. Mari kita cicil aksi ini dari sekarang agar di masa depan nanti, ketika kita semua duduk pada kursi strategis masing-masing, tugas-tugas berat itu tidak menumpuk. Semangat awardee LPDP NTB!

“Orang yang terus untuk belajar akan menjadi pemilik masa depan, tetapi mereka yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu.”





 
 

    









1 komentar: