Sabtu, 07 Mei 2016

Pendidikan Karakter Sebagai Solusi ~Tahan HJ Sihombing~

Pendidikan Karakter Sebagai Solusi
Oleh Tahan HJ Sihombing
Awardee LPDP- Magister Luar Negeri (PK-61)


Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas pendidikan Indonesia dipandang dari segi pengetahuan/keilmuan telah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Ini ditunjukkan dengan beberapa prestasi anak bangsa yang telah diraih di olimpiade-olimpiade keilmuan internasional. Namun prestasi-prestasi yang telah diraih tidak seiiring dengan perkembangan mental dan akhlak bangsa kita.

Pada tanggal 12 Juli hingga 21 juli 2008, tiga dari empat pelajar Indonesia meraih satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu, dari olimpiade kimia internasional di Budavest, Hungaria. Ini menjadi suatu kebanggaan besar bagi bangsa kita dimana kita tidak dipandang sebelah mata di dunia internasional.

Pada tanggal 28 Juli 2008, pelajar Indonesia kembali meraih medali memas dalam olimpiade fisika internasional. Medali emas juga diperoleh pelajar Indonesia pada olimpiade International Science and Technology Exhibition pada tanggal 18 oktober sampai 1 november 2008 di Puerto Allegro, Brasil.

Prestasi-prestasi yang diraih ini merupakan contoh kecil yang telah diraih anak bangsa Indonesia. Masih banyak prestasi-prestasi lain yang telah dicapai oleh anak bangsa.Namun  perkembangan kualitas pendidikan yang semakin berkembang, tidak  diiringi dengan perkembangan karakter positif bangsa kita. Ini ditunjukkan dengan gobroknya mental dan ahlak para pemimpin bangsa kita yang terus menerus melakukan tindakan kriminal yang merugikan masyarakatnya sendiri. Adanya korupsi yang terus menerus mencuak di permukaan, merupakan bukti bahwa tidak adanya karakter positif bangsa yang terbentuk. Selain itu, kasus peneroran  atau yang sering disebut terrorism juga semakin marak terjadi. Setelah bangsa Indonesia di kejutkan dengan bom bali 1 pada tahun 2002 dan bom Bali 2 pada tahun 2005 yang telah merenggut banyak korban, serta disusul dengan penghancuran Hotel Marrihot dan Ritzh Carlton pada tahun 2009 di Jakarta yang juga membunuh banyak nyawa, baru-baru ini kasus terorisme juga terjadi dimulai dengan penyerangan pos polisi yang menewaskan 2 anggota polisi.

Selain korupsi dan terorisme yang merajalela di bangsa kita, masalah-masalah sosial juga terus mencuat di permukaan, diantaranya pertengakaran antar desa juga masih marak terjadi. Bukan hanya Poso dan daerah Papua yang sering kita dengar, namun daerah lain di Indonesia juga telah terjadi permusuhan antar desa. Pada akhir oktober 2012, kerusuhan di Lampung menewasakan lebih dari 10 orang. Masalah masalah sosial ini sering ditimbulkan oleh adanya isu sara yang beredar di masyarakat. Belum dewasanya masyarakat Indonesia dalam berdemokrasi, kasus isu sara dirasa sangat sensitive. Lagi-lagi ini merupakan akibat dari gobroknya mental dan akhlak bangsa Indonesia.

Belum selesai masalah yang satu, masalah yang lain muncul lagi. Baru-baru ini, kita merasa terhina oleh bangsa lain dimana TKI Indonesia dianggap tidak ada harganya dimata mereka. Disatu sisi, malasya mengutarakan pernyataannya bisa jadi ini karena para TKI ini Indonesia kuang mempunyai skills untuk bekrja disana. Selain disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan di Indonesia, menurut saya seba utama masalah ini adalah masyarakat bangsa Indonesia belum bisa hidup mandiri dengan kata lain tidak adanya inisiatif atau kreatifitas sendiri dari masyarakat kita untuk berusaha menghasilakan uang.

Sungguh miris memang, mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi di bangsa kita. Sepertinya masalah-masalah diatas akan selalu melekat di bangsa kita sepanjang masa. Namun demikian, kita tidak boleh mudah menyerah dalam menghadapi masalah-masalah kita. Menanggapi isu-isu dan masalah yang terjadi di Indonesia, kita bisa melakukan banyak hal untuk membantu pemerintah kita dalam menyelesaikan isu-isu ini. Dari segi pendidikan, pendidikan karakter merupakan obat yang paling sesuai untuk menangani masalah-masalah diatas.para guru tidak bisa hanya fokus pada pengembangan kecerdasan siswa. Para pendidik harus memebentuk karakter para siswa-siswanya sejak awal. Apabila karakter di bentuk sejak awal, maka masalah-masalah yang muncul di masa depan akan dapat dikurangi dan bahkan 100 % bisa diatasi. Menurut apa yang saya lihat dan apa yang saya saksikan, TNI mempunyai karakter siap berperang merupakan hasil pembentukan karakter sejak mereka di rekrut menjadi anggota TNI. saya sering mendengar, bahwa mereka sering menyebutkan bahwa RI adalah harga mati. Merka tidak takut apapun dalam membela NKRI karena karakter mereka telah di bentuk.

Apabila karakter prajurit TNI yang siap membela NKRI bisa dibentuk, maka karakter semua masyarakat Inonesia bisa di bentuk. Dalam hal ini saya ingin mengedepankan beberapa karakter yang harus dimulai sejak dini. Beberapa karakter itu diantaranya karakter jujur, nasionalis, dan mandiri. Apabila sejak dini karakter ini dibentuk kepada anak-anak Indonesia maka masalah-masalah yang disebutkan diatas kemungkinan besar tidak akan muncul lagi.

Untuk mengatasi korupsi, karakter jujur harus dibentuk  pada diri anak. Apabila anak-anak sejak awal wal harus dijelaskan dampak KKN di Indonesia. Anak-anak di sekolah harus dibiasakan bersifat jujur dan memberikan sanksi setiap kali mereka berbohong. Dengan pembiasaan ini, maka budaya jujur akan tertanam pada setiap peserta didik dan hasilnya adalah apabila mereka menjadi pemimpin kelak dimasa depan mereka akan mempunyai intelijen yang tinggi yang dibarengi dengan kejujuran.

Untuk mengatasi terorisme, maka karakter yang harus dibentuk adalah nasionalis. Apabila semua anak-anak bangsa Indonesia dibentuk dengan rasa nasionalis sejak awal maka kelak mereka akan menolak menjadi pelaku terror yang biasanya perintahkan untuk menghancurkan kelompok terntentu yang berbeda dengn kelompoknya. Selain itu, penyerangan terhadap desa lain, suku ataupun agama yang kita lihat sekarang ini tidak kan terjadi lagi. Sejak dini , peserta didik ditanamkan karakter bahwa Indonesia adalah satu. Penerapannya di sekolah adalah seorang anak didik harus di biasakan bekerjasama memecahkan masalah dengan anak didik lain yang dari segi agama ataupun suku mereka berbeda.

Untuk mengatasi masalah lapangan kerja khusnya masalah TKI, maka karakter mandiri harus dibentuk pada tiap-tiap peserta didik adalah karakter mandiri.  Peserta didik harus dibiasakan untuk hidup mandiri yaitu tidak selalu mengharapkan bantuan dari orang lain. Dalam hal ini, anak-anak bangsa di Indonesia di masa depan akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri tanapa harus menunggu bantuan dari orang lain. Karakter mandiri dapat dibentuk pada saat anak belajar ilmu pengetahuan, misalnya pada saat belajar bahasa Indonesia kalimat “saya pergi ke Pasar beli buah” sangat sering diutarakan oleh guru pada saat memberikan contoh kalimat. Menurut saya kalimat ini bisa diganti dengan “saya menjual buah di pasar” sehingga apa yang terdoktrin di otak anak adalah bahwa dia akan maiu menjual mangga dan tidak hanya membeli saja. Secara tidak langsung  peserta didik akan mempunyai mindset yang berorientasi  pada pembuatan pekerjaan sendiiri.

Sejauh ini pembelajaran ilmu pengetahuan telah dibarengi dengan pendidikan karakter. Namun apa yang saya lihat adalah penerapannya hanya masih sepintas lalu. Pendidikan karakter sebenarnya harus dianggap sebagai perhatian yang sangat penting. Penerapannya pendidikan karakter dapat diintegrasikan dengan pembelajaran. Pentingnya pendidikan karakter sejak dini akan menghasilkan dampak positif yang besar di bangsa kita di masa depan.

       

0 komentar:

Posting Komentar