Sabtu, 07 Mei 2016

Secuil Problematika Pendidikan ~Syahrul Ramadhan~

Secuil Problematika Pendidikan
Oleh : Syahrul Ramadhan
(Ketua Awardee LPDP NTB)

Pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Pendidikan merupakan pembentukan peserta didik kepada yang diinginkan sipendidik yang diistilahkan dengan Educere. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
            Tidak bisa dipungkiri, tata kelola pendidikan yang baik dan benar akan selalu berkorelasi dengan kemajuan suatu Negara. Banyak Negara-negara yang akhirnya menjadi maju setelah sebelumnya memperhatikan dan meningkatkan proses pelaksanaan pendidikan. Karna dalam pendidikan yang maju akan melahirkan banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan sangat membantu aktivitas masyarakat baik dalam segi konsep maupun terapan.
Lantas bagaimana dengan pendidikan di Indonesia saat ini? Terlebih khususnya di NTB? Secara umum, Pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan dan tantangan yang kompleks dan mendasar, sekaligus menyongsong harapan di tengah era global. Bangsa Indonesia dengan pasti tidak dapat menghindar dari pergaulan Pasar Bebas seperti GATT, WTO, AFTA dan pergaulan dunia yang mempengaruhi segala aspek berkehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Apalagi ditambah dengan diberlakukannya MEA yang mengakibatkan semakin ketatnya persaingan. Begitupun kaitanya dengan pendidikan di NTB. Banyak hal yang masih perlu dibenahi dan diperbaiki.
Beberapa minggu ini, disaat kita masih dalam euforia hari pendidikan, banyak kejadiaan yang begitu memilukan, seorang mahasiswi terbunuh dikampus UGM karena sang pelaku sedang mengalami masalah keuangan, kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh 14 remaja terhadap seorang gadis yang masih dibawah umur, ditambah kasus pembunuhan dosen oleh mahasiswanya hanya karena sering ditegur oleh sang dosen. Fenomena ini mengindikasikan ada yang salah dengan bangsa kita, khususnya pendidikan kita, ada yang perlu kita perbaiki dalam sistim pendidikan kita, karna memang saat ini pendidikan kita sedang “sakit” dan efeknya menyebar keseluruh komponen dan bidang lain yang berefek pada lambatnya kemajuan bangsa kita tercinta.
            Berbicara tentang fenomena dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini, hendaknya kita perlu melihatnya secara holistic. Karna pendidikan selalu berkaitan dengan bidang-bidang lain seperti social, budaya, politik dan ekonomi. Disamping itu, perlu melihat masalah-masalah didunia pendidikan dalam lingkup makro (filosofi, teori dan praktis), pun tidak menyepelekan hal-hal dalam lingkup mikro (sistim pembelajaran, metode pembelajaran dll). Sederhananya bisa terlihat pada bagan dibawah ini;










Dalam lingkup makro, bisa jadi kita salah dalam mengadopsi filosofi pendidikan yang kita anut. Misalnya saja paham positifistik yang sangat kental didunia pendidikan seolah-olah semua fenomena bisa diukur dan dinyatakan dalam angka-angka dan bisa digeneralkan. Padahal sebenarnya semua daerah itu punya keunikan masing-masing dan kekhasannya masing-masing. Kita berusaha membuat kebijakan pendidikan yang “satu untuk semua” padahal semuanya tidaklah satu. Begitupun teori-teori yang digunakan dalam dunia pendidikan, kita seperti latah menggunakan teori-teori perkembangan yang dikaji didunia barat, padahal sebenarnya terkadang teori-teori tersebut tidak relevan jika diaplikasikan di Indonesia. Begitupun riset-riset yang dilakukan dalam dunia pendidikan yang mengambil sampel dipulau jawa tidak serta merta bisa berhasil jika diaplikasikan di daerah lain. Misalnya saja keberhasilan metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang pemakaiannya dan pengujiannya terbatas pada SD khusus di cianjur terbukti berhasil, sehingga dipakai sebagai sistim pendidikan nasional. Namun apakah kemudian metode tersebut berhasil diterapkan secara nasional? Apakah hasilnya sama seperti percobaan yang dilakukan di cianjur ?.
            Dalam lingkup mikro-pun demikian, kita seperti nyaman dengan sistim pembelajaran tradisional/konvensional yang mengandalkan ceramah sedangkan Negara lain sudah semakin berkembang menggunakan sistim E-learning dan berbagai metode pembelajaran berbasis teknologi. Belum lagi ditambah dengan tidak meratanya sarana dan prasarana ditiap tingkat satuan pendidikan menyebapkan pendidikan di Negara kita sangat susah untuk bergerak maju. sekolah sebetulnya belum merasakan otonomi sekolah sebagai mana amanah Undang Undang. Sekolah seperti latah sistemik "Pengikut setia sesuai juknis" tidak memiliki kreatifitas mengelola dan membangun. Miris memang, namun inilah kondisi pendidikan di negeri ini. Di beri kaki namun di ikat, di beri tubuh namun di pasung. Ironi memang, ditengah pergulatan mutu yang semakin nyata dengan negara negara lain.
Ternyata problem pendidikan tidak lantas sampai disitu. Belum lagi kita berbicara tentang dampak kebijakan desentralisasi yang menjadikan bupati/walikota bak raja diwilayahnya masing-masing. Mereka bebas mengendalikan dan mengatur para pemegang jabatan. Terkadang kepala sekolah diangkat bukan berdasarkan prestasi tapi karna kedekatan. Belum lagi ditambah tidak singkronnya antara peraturan daerah, peraturan provinsi dan peraturan nasional terkait pendidikan. Seolah daerah lupa kalau mereka bagian dari sistim nasional. Padahal seharusnya pendidikan didaerah tetap harus mengikuti alur yang diberikan oleh pemerintah pusat agar pemetaan bisa berjalan dengan baik. Dengan kata lain, kita masih terpenjara oleh sistem dan birokrasi yang mengamputasi kreatifitas.
            Disisi lain, terkadang kita melupakan hal penting dalam memajukan pendidikan, yaitu kita perlu memahami bagaimana kondisi lingkungan, keadaan social dan budaya masyarakat sekitar. Para pembuat kebijakan hendaknya memahami bagaimana kondisi social, budaya dan politik yang berlaku ditiap daerah sehingga dunia pendidikan akan lebih menyatu dengan bidang lainya. Pendidikan hendaknya berbasis kearifan local yang disesuaikan dengan potensi daerah.
Belum lagi jika kita berbicara tentang “tempat” pendidikan itu berlangsung, sekolah dan perguruan tinggi. Sekolah dan perguruan tinggi seringkali di jadikan sebagai simbol kemapanan Sistem Pendidikan di negeri ini. Di dalamnya nilai dan ilmu disekat seperti halnya kelas dengan dinding nya yang kokoh dengan balutan cat pelangi tanpa makna. Banyak paham-paham keliru, atau kebijakan-kebijakan yang akhirnyaa mengurangi esensi pendidikan itu sendiri sebagai investasi peradaban. Bagaimana tidak, misalnya dikotomi eksakta dan ilmu sosial telah melahirkan cara pandang yang keliru anak anak didik terhadap science dalam skala luas. Anak anak cenderung menempatkan studi studi sosial sebagai pilihan terakhir. Hasilnya kemudian siswa terbelah dalam mainstream yang saling mendominasi. IPA lebih baik dari IPS. Pada bagian lain, kita sudah sama-sama mengetahui bagaimana Sekolah/Perguruan Tinggi saat ini seolah-olah seperti sebuah perusahaan yang sedang mencari keuntungan yang terkadang tidak memperhatikan bagaimana mutu lulusan. Menurut Anies Baswedan, Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap- menyuap dan pungutan liar. Dengan ini, bisa dikatakan pendidikan di Indonesia menjadi lahan bisnis beberapa pihak birokrat yang tidak bertanggung-jawab. 
Adapun beberapa solusi yang ditawarkan berkaitan dengan permasalahan pendidikan tersebut antara lain; Pertama, Kita perlu membuat desain sistim pendidikan alternative yang mampu merangkul semua elemen dan sesuai dengan keberagaman dan keunikan yang ada di Indonesia. Selama ini bangsa Indonesia telah terbuai dengan janji dan implementasi berbagai konsep pendidikan dari luar yang ternyata hanya menjauhkan atau mencerabut marwah ke Indonesiaan dari generasi ke generasi berikutnya. Sudah saatnya kita menggali, mengembangkan dan mengimplementasikan harta karun konsep pendidikan asli Indonesia yaitu yang salah satunya telah digagas dan diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Hanya di Indonesialah terdapat konsep ing ngarsa sung tuladha dan tut wuri handayani. Sementara di negara-negara Barat, mereka hanya unggul ing madya mangun karsa. Jelaslah kiranya bahwa konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara cukup menjanjikan solusi untuk mengatasi krisis multidimensi bangsa. Disamping itu, Pemetaan potensi dan keunikan kawasan menjadi sebuah keniscayaan untuk dilakukan sehingga dapat mengembangkan kebijakan mutu lulusan yang memiliki keunikan sesuai kawasan, hal ini penting untuk di lakukan untuk merespon agenda global yang intens mengkampanyekan "Back to Nature". Menopang upaya ini, maka sekolah perlu membuka diri dengan melibatkan berbagai elemen perguruan tinggi dalam melalukan terobosan nyata melalui revitalisasi kurikulum dan sistim pembelajaran.
Kedua, kebijakan integrasi ke ilmuan dan budi pekerti pada seluruh domain ke ilmuan dan entitas pembelajaran. Problem pendidikan pada hakikatnya juga berkaitan dengan karakter atau budi pekerti. Pendidikan saat ini hanya mengacu pada esensi keilmuan saja tanpa mempertimbangkan perkembangan karakter siswa (dalam bahasa ngetren-nya “revolusi mental”). Point ke dua ini dapat dikatakan sebagai titik tumpu bagaimana mengembangkan sekolah kehidupan bagi siswa sebagai tumpuan peradaban sehingga pendidikan memiliki makna untuk perubahan dan peradaban. Bagian point kedua ini juga akan menjadi fokus dari penulis untuk Disertasi nanti.
Ketiga, perlunya bersinergi membangun negeri. Masalah pendidikan, pun masalah lainya di Indonesia tidak hanya bisa diselesaikan oleh orang-orang yang menggeluti bidang tersebut saja. Perlu kerjasama multidisiplin ilmu untuk sama-sama memperbaiki dan mewujudkan Indonesia emas. Percuma kita memaksakan diri memperbaiki pendidikan jika sector lain terlupakan, pendidikan yang baik akan terwujud jika tiap komponen lain pun saling bersinergi, politik, hukum, social, kesehatan, ekonomi dll.
Akhirnya, banyak sekali factor yang menyebapkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, maka disinilah perlunya kita bersama-sama (pemerintah dan masyarakat) memperbaiki semua permasalahan tersebut secara massif, terencana dan berkesinambungan. Andai saja pendidikan kita umpamakan mobil, maka mobil kita saat ini sedang berada dijalan yang salah. Sampai kapanpun tidak akan mampu mengantarkan kita ke tempat tujuan. Disamping itu, mobil itu mengalami kerusakan dan gangguan teknik diberbagai bagian. Bisa jadi AC-nya mati, bannya bocor, lampu mati, dan berbagai permasalahan teknik lainya. Wallahualam.

Daftar Pustaka
Djemari Mardapi. (2012). Pengukuran penilaian & evaluasi pendidikan. Yogyakarta: Nuha Litera

0 komentar:

Posting Komentar