Minggu, 30 Oktober 2016

“Benarkah kita baper dengan PK?”

Saya menggunakan judul ini karena inilah yang saya rasa sangat mewakili keadaan saya dan sebagian besar kita saat ini, dimana setelah PK, kita seperti bukan saudara, kita bukan seperti keluarga. Tulisan ini saya buat sebagai refleksi dari kekhawatiran saya pada diri saya sendiri bahwa saya akan menjadi awardee lpdp yang tidak mendapatkan manfaat apapun dari kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK). Kegiatan yang mungkin saja menjadi kegiatan main-main paling menyenangkan dan paling maksimal menggugah seluruh kreatifitas yang pernah kita ikuti. Yang paling saya khawatirkan adalah saya bahkan mungkin akan menjadi orang yang menyia-nyiakan kegiatan yang per-angkatannya menghabiskan uang Negara 600 – 800 juta. Sehingga ijinkan saya untuk sedikit mencoba mengembalikan memori kita semua tentang PK yang katanya “Selalu Bikin Baper” itu.
 
PK adalah kegiatan yang menurut sebagian besar kita merupakan kegiatan paling ampuh yang membuat kita merasakan baper berkepanjangan. Sebagian besar kita pasti sepakat bahwa jika waktu PK diperpanjang atau boleh mengulang PK, maka kita akan dengan sangat senang hati akan mengikutinya. Di PK kita melupakan dan melepas seluruh atribut dan identitas kita. Di PK kita bekerjasama tanpa memandang status dan umur. Di PK kita bisa dengan bebas dan lepas bersenda gurau dan tertawa tanpa beban. Di PK kita bisa joget, goyang dan berdendang tanpa merasa malu dan gengsi. Di PK bahkan kita dengan leluasa mengucapkan ikrar janji yang kita hafalkan dan mungkin tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya itu adalah sumpah. Semuanya terasa menyenangkan dan meninggalkan kesan hebat yang membuat kita merasakan baper luar biasa. Entahlah, kenapa kita merasakan baper itu? Bisa jadi kita baper beneran atau sekedar ikut perasaan teman. 

Sepertinya di PK kita terlalu banyak kenangan, kita bahkan mengeluarkan semua kegembiraan dan melepas seluruh beban luar yang kiya miliki. Tidak ada Jaga Image (Jaim), tidak ada pendiam, tidak ada pemalu, tidak ada pemalas selama kita melaksanakan PK. Semua dikondisikan pada suhu dan suasana yang sama; Senang dan gembira. Kita bisa bertemu dan berteman dengan sosok-sosok generasi terbaik bangsa ini dengan profil akademis dan non akademis yang memukau. Kita bisa bertemu dengan tokoh-tokoh nasional yang hebat dan menginspirasi. Pokoknya semuanya menjadi alasan dari kebaperan yang kita rasakan.
 

Tidak ada moment paling menyenangkan selama menjadi awardee LPDP selain pada saat PK. Sebaliknya tidak ada moment paling menyedihkan selama menjadi awardee sampai menjadi alumni LPDP selain waktu perpisahan PK. Ini mengindikasikan betapa luar biasanya PK bagi seorang awardee LPDP. Selalu terngiang, saat-saat perpisahan dan ketika kita di menit-menit terakhir bersama teman-teman angkatan, dimana air mata harus keluar dari persembunyiannya, suasana yang mengharu biru, yang bahkan sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Ketika satu demi satu teman kita mengangkat kopernya dan naik ke kendaraan penjemput, satu demi watu meninggalkan wisma hijau. Di saat itulah kita merasakan kesepian yang luar biasa. Kita merasakan kehilangan bahkan suasana yang terasa hampa setelah perpisahan itu.
 
Satu demi satu kita kembali meninggalkan wisma hijau yang menyimpan sejuta kenangan. Kita tidak mungkin lagi melanjutkan kebersamaan kita yang hebat di tempat itu. Selanjutnya adalah kita akan melaksanakan amanah yang menjadi materi dan ikrar yang kita sampaikan bersama-sama waktu itu. Amanah yang sesungguhnya sangat berat karena itu adalah sumpah. Sumpah untuk mengabdi yang selalu kita dengungkan dalam jargon “Indonesia, Aku pasti mengabdi”. Sumpah untuk bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sumpah untuk menjunjung tinggi dan mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. Sumpah untuk berbakti dan mengabdi kepada Nusa dan Bangsa. Sumpah untuk menjadi pemimpin Indonesia yang berintegritas dan professional. Dan sumpah untuk bersinergi dalam memberikan pelayanan demi kemajuan Indonesia. Kita juga tanpa sadar bersumpah untuk hidup dengan lima Nilai Budaya yakni; Integritas, Profesional, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan.
 
Saya membayangkan saat-saat awal perpisahan kita dimana Kelompok Telegram Besar dan WA sangat penuh dengan curhatan suasana hati dan perasaan kita masing-masing. Apalagi grup telegram kelompok kecil yang chatnya bisa ribuan dalam hitungan jam. Disana kita menumpah ruahkan perasaan dan kerinduan kita yang baru saja dipisahkan oleh jarak. Rasanya kita ingin kembali bersama-sama terkantuk-kantuk saat menyelesaikan daily report. Kita ingin mengulang pekerjaan berat sebagai tim dokum, bereforia dalam semaraknya BYFY, bersenda gurau dalam serunya Integrity Sport dan sebagainya. Bahkan kita saling menceritakan hal-hal yang sama-sama kita ketahui dan alami.
 
Hari hari demi hari berlalu, minggu demi minggu silih berganti suasana itu semakin sepi. Grup-grup yang merepresentasikan kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaan semakin lengang. Sepi yang mungkin disebabkan karena kesibukan di tempat kita masing-masing. Sepi karena nampaknya baper sudah mulai hilang. Bahkan mungkin sepi karena ikatan rasa kita sudah mulai lemah. Satu demi satu kita mulai lupa pesan pak Kamil yang selalu mengingatkan kepada kita bahwa Esensi PK adalah kebersamaan, keakraban, kekeluargaan dan kesatuan. Artinya bahwa jika kita tidak mempertahankan itu, maka esensi PK telah runtuh dalam diri kita. Kita mungkin masih ingat ketika beliau mengatakan bahwa “PK berhasil apabila setelah PK kalian semakin akrab dan sering melakukan kegiatan kopdar serta jika mengambil peran dalam menjalankan program-program angkatan”.
 
Mari kita coba mengatur nafas kita sejenak dan mengembalikan satu-persatu ingatan kita tentang PK, tentang harapan-harapan pak kamil, tentang ikrar dan sumpah yang kita ucapkan, tentang teman-teman kelompok kita, tentang teman-teman angkatan kita yang cantik, yang ganteng, yang luar biasa, yang paling inspiratif, bahkan yang terlucu sekalipun. Karena mungkin dengan itu kita akan membuka group tele kelompok kita kembali, grup besar tele dan WA atau grup-grup lainnya yang berisi teman-teman awardee baik angkatan PK kita maupun awardee yang lain. Mungkin dengan itu kita akan menyapa teman-eman angkatan kita, teman-teman kelompok kita kembali. Mungkin dengan itu kita akan tergerak untuk sekedar meminta ijin jika kita tidak bisa mengikuti kegiatan kopdar jika ada alasan yang tidak bisa ditingalkan yang bersamaan dengan kopdar. Mungkin dengan itu kita akan ikut mengambil bagian dalam peran-peran pengabdian, misalnya menjadi volunteer atau membantu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh awardee maupun komunitas-komunitas social yang ada di sekitar kita. Dan Mungkin dengan itu sumpah, ikrar dan semangat yang dulu kita ucapkan dan kobarkan bisa kita ejawantahkan. Sehingga Mungkin dengan itu harapan-harapan pak kamil dan seluruh tim PK tidak membuat kita layak menyandang gelar sebagai awardee yang PHP. Mungkin berawal dari itu kita menjadi awardee yang bisa mengambil peran dalam perwujudan visi misi LPDP.
 
Teman-teman yang hebat!. Kita semua mungkin sama-sama memiliki cita-cita pengabdian untuk bangsa. Ada yang mulai mengambil posisi dan peran dari sekarang dan ada juga mungkin diantara kita yang mencita-citakan akan mengabdi setelah selesai studi dan sebagainya. Itu adalah cara pandang kita masing-masing. Bukankah pak kamil sering mengatakan “Kita tidak pernah tahu di titik mana kita menginspirasi orang lain”. Artinya kita masing-masing memiliki potensi untuk menginspirasi, sehingga walaupun tidak ikut kopdar, tidak berperan dalam kegiatan-kegiatan angkatan, tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan awardee wilayah, lurah atau region toh juga bisa menginspirasi pada hal-hal lain. Semoga kata-kata itu tidak menjadi pembenaran atas sifat Individualisme kita yang kemudian membuat kita tidak hadir atau tidak memberikan tempat prioritas untuk menguatkan kebersamaan, keakraban, kekeluargaan dan persatuan kita sebagai awardee, karena itulah esensi PK. Jangan sampai kita mengaku baper dengan PK, ingin PK lagi, dan sebagainya akan tetapi kita tidak peduli dengan kebersamaan, keakraban, kekeluargaan dan persatuan yang telah kita bangun di PK. Benarkah kita baper? Benarkah kita telah bersaudara? benarkah kita telah menjadi berkeluarga?
 
Teman-teman awardee yang hebat!. Kita adalah saudara, kita adalah keluarga. Mari kita pertahankan jalinan hebat ini. Karena jalinan persaudaraan dan kekeluargaan kita adalah Harapan Indonesia. Ibarat sapu, hatta batangnya terbuat dari emas, jika ia tidak memiliki ikatan yang kuat, maka ia tidaklah bisa diharapkan menjadi solusi. Lalu apakah yang menjadi alasan kita melemahkan ikatan hebat yang sudah kita jalin ini? Jika kopdar sudah semakin sepi, jika ijin untuk tidak mengikuti kegiatan angkatan tidak lagi kita peduli, jika keadaan saudara keluarga kita seawardee tidak kita ketahui, bukankah ini ibarat merencanakan sebuah kegagalan? Visi-misi LPDP yang luar biasa itu hanya akan menjadi kata, tidak akan menjadi nyata, karena Ikatan kita lemah, integritas kita rapuh, bahkan bisa jadi baper kita adalah muslihat.
 
Mari kita kembali saudaraku. Kita sapa saudara-saudara kita, Kita ramaikan kopdar-kopdar kita, Kita ramaikan kegiatan-kegiatan persatuan awardee kita dan kita kuatkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan kita. Karena dengan itu kita akan bisa mewujudkan harapan-harapan, kita bisa menjadi penerang untuk bangkit dari keterpurukan serta kita bisa menjadi generasi kebanggaan Indonesia. [jun]

LPDP! : Jaya!
LPDP! : Jayaa!!
LPDP! : Jayaa!!
 Indonesia! : Aku Pasti Mengabdi!
Sit down Please! : Aaaa……..
Please! : Aaaa……….
Pleaseee! : Aaaaaaahhhhh…………


Sumpah Pemuda !

Kami Putra-putri Indonesia
Mengaku bertumpah darah Satu
Tanah air Indonesia

Kami putra putrid Indonesia
Mengaku berbangsa Satu
Bangsa Indonesia

Kami Putra-putri Indonesia
Menjunjung bahasa Persatuan
Bahasa Indonesia


#IndonesiaAkuPastiMengabdi
#HariSumpahPemuda
#28Oktober1928
#28Oktober2016

Yogyakarta, 28 Oktober 2016
Oleh : Junardi (PK-77) Garuda Aksara

0 komentar:

Posting Komentar